Hemofilia pada anak adalah penyakit keturunan selain buta warna dan asma yang tidak diinginkan oleh semua orang tua.

Penyakit keturunan ini membuat darah sang anak sulit untuk membeku, sehingga bisa membahayakan jika ia sampai terluka.

Pada artikel ini, akan dibahas seluk-beluk mengenai hemofilia pada anak. Ayo simak informasinya agar kamu bisa menangani hal ini.

Apa Itu Hemofilia pada Anak?

Hemofilia pada anak adalah penyakit keturunan dimana pendarahan (jika terluka) memerlukan waktu lebih lama untuk berhenti.

Anak yang terlahir dengan mengidap hemofilia memiliki faktor pembekuan darah (clotting factor) terlalu kecil atau bahkan tidak ada sama sekali.

Risiko dari pendarahan di dalam sendi seperti engkel, siku, dan lutut juga bisa lebih besar karena hemofilia pada anak.

Tidak hanya pendarahan luar seperti jika terjatuh di aspal, pendarahan pada organ dalam juga bisa menjadi ancaman yang bisa merenggut jiwa.

Tipe Hemofilia pada Anak

Hemofilia pada anak dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:

  1. Hemofilia A (klasik): Memiliki clotting factor VIII tingkat rendah atau bahkan tidak ada sama sekali.
  2. Hemofilia B (Christmas disease): Memiliki (sangat sedikit) atau kehilangan clotting factor IX
  3. Hemofilia C: Beberapa dokter menyebut hemofilia ini karena kehilangan clotting factor XI

Apa yang Menyebabkan Hemofilia pada Anak?

Hemofilia tipe A dan B adalah penyakit keturunan dimana mereka diturunkan dari orang tua ke anak lewat gen pada kromosom X.

Sebagai pengetahuan umum, perempuan mempunyai kromosom XX dan laki-laki memiliki kromosom XY.

Jika sang ibu adalah carrier hemofilia seperti kasus buta warna, ada kemungkinan 50% jika gen hemofilia tersebut akan diturunkan ke bayinya.

Kalau gen hemofilianya diturunkan ke anak laki-laki, maka ia akan  mengalami hemofilia, dan jika gennya diturunkan ke anaknya perempuan, ia akan menjadi carrier hemofilia dengan catatan sang ayah adalah bukan pengidap hemofilia.

Jika sang ayah adalah pengidap hemofilia, maka anak perempuannya ada kemungkinan akan mengalaminya, bukan menjadi carrier.

Andai sang ayah adalah pengidap hemofilia, dan sang ibu tidak memiliki gen hemofilia, maka semua anak perempuannya akan menjadi carrier hemofilia dan anak laki-lakinya tidak akan mengidap hemofilia (normal).

Uniknya, sepertiga dari pengidap hemofilia tidak memiliki riwayat penyakit tersebut pada keluarganya, bisa jadi ini berkaitan dengan penyimpangan gen baru (new gene flaw).

Carrier gen hemofilia biasanya memiliki clotting factors yang normal-normal saja, tetapi rawan mengalami hal berikut:

  1. Mudah memar
  2. Berdarah lebih banyak saat operasi gigi atau pembedahan
  3. Mimisan secara berkala
  4. Saat menstruasi, biasanya berdarah jauh lebih banyak

Khusus untuk hemofilia pada anak untuk tipe C, biasanya tidak menimbulkan banyak masalah, hanya saja ia kemungkinan berdarah lebih banyak saat menjalani operasi bedah.

Gejala Hemofilia pada Anak

Hemofilia pada anak

Mayoritas gejala hemofilia pada anak adalah pendarahan yang besar dan biasanya tidak bisa dikontrol.

Keparahan dari hemofilia pada anak bergantung dari clotting factor pada darah.

Mereka yang memiliki clotting factor lebih dari 5% hanya sering mengalami pendarahan saat cabut gigi atau operasi bedah saja.

Anak-anak ini mungkin saja tidak didiagnosa soal hemofilia sampai dilihat komplikasi pendarahannya akibat dari operasi bedah tersebut.

Hemofilia berat terjadi jika faktor VIII dan IX kurang dari 1%.

Anak-anak akan mudah sekali berdarah, bahkan hanya dengan aktivitas biasa sehari-hari, bahkan dari cedera yang tidak diketahui.

Pendarahan biasanya terjadi pada sendi dan kepala.

Gejala hemofilia pada anak adalah:

1. Memar

Memar biasanya terjadi saat kamu berbenturan dengan keras, misalnya adu kaki saat bermain sepak bola.

Sayangnya, hemofilia pada anak membuat memar bisa terjadi bahkan hanya dari kecelakaan kecil saja.

Hal ini bisa terjadi karena build up darah yang besar di bawah kulit yang menyebabkan swelling.

Karena hal ini pula, diagnose hemofilia biasanya dilakukan pada anak berumur 12 bulan sampai 18 bulan karena di umur tersebut, mereka sedang dalam fase aktif-aktifnya.

2. Gampang Berdarah

Karena darah susah sekali membeku, mereka mudah sekali mengalami pendarahan (berdarah).

Hanya luka kecil saja bisa menyebabkan pendarahan.

Jika saat menyikat gigi saja sudah menyebabkan pendarahan, ada kemungkinan itu adalah hemofilia.

Bagaimana Diagnosa Hemofilia pada Anak?

Cara mendiagnosa apakah ada hemofilia pada anak selain lewat dokter adalah mengecek riwayat anggota keluarga yang memiliki riwayat penyakit yang sama.

Perlu diketahui bahwa diagnosa hemofilia sebaiknya dilakukan oleh dokter di rumah sakit, dan biasanya melalui tes darah.

1. CBC

CBC adalah mengecek keseluruhan jumlah sel darah yang ada pada tubuh, bahkan termasuk sel darah yang masih muda (retikulosit).

2. Clotting Factor

Untuk mengecek level clotting factor.

3. Waktu Pendarahan

Untuk melihat seberapa cepat darah membeku.

4. Tes DNA

Untuk mengetes apakah ada DNA yang abnormal atau tidak?

Ada Hemofilia pada Anak? Bantulah Mereka

Mengidap penyakit keturunan bukanlah hal yang diinginkan oleh setiap orang yang lahir ke dunia ini.

Jika anakmu mengidap hemofilia, bantulah mereka dengan berbagai cara seperti memberi tahu soal ini ke dokter sebelum mereka menjalani operasi atau perawatan gigi dan menjaga kebersihan perawatan gigi untuk mencegah gusi berdarah.