Anak hiperaktif atau ADHD (attention deficit hyperactivity disorder) bukan merupakan aib dan menjadi tantangan bagi orang tua karena sang anak akan bersifat restless.

Gejala anak hiperaktif (ADHD) bisa terlihat saat ia bergaul di lingkungan yang lebih besar, contohnya adalah saat mereka mulai sekolah, entah TK atau langsung SD.

Beberapa kasus anak hiperaktif didiagnosa saat sang anak berumur 3 sampai dengan 7 tahun tetapi bisa juga lebih lama daripada itu. Bahkan, ada kasus dimana ADHD baru terdiagnosa saat pengidapnya sudah menjadi dewasa.

Apa Penyebab Anak Hiperaktif?

1. Genetik

Kondisi anak hiperaktif belum diketahui penyebab pastinya, tetapi kondisi tersebut bisa terlihat lewat keluarga, apakah ada anak yang juga menginap ADHD atau tidak?

Riset menunjukkan bahwa orang tua atau saudara yang mengidap ADHD akan berpeluang besar untuk memiliki anak yang ADHD pula.

Meski demikian, ADHD tidak diturunkan secara simpel (kompleks) dan berbeda penjelasannaya dengan buta warna dan hemofilia karena kesalahan genetik tunggal saja.

2. Struktur dan Fungsi Otak

Studi menunjukkan bahwa terdapat beberapa perbedaan yang terjadi pada otak anak hiperaktif jika dibandingkan dengan otak normal, meskipun signifikansinya belum terlalu jelas

Studi lain mengatakan bahwa orang dengan ADHD memiliki ketidakseimbangan neurotransmitter di otak, sehingga otaknya tidak bekerja secara optimal.

3. Faktor Lain

Faktor lain yang mungkin berpotensi menyebabkan anak hiperaktif antara lain:

  1. Lahir secara prematur (kurang dari 37 minggu usia kehamilan)
  2. Berat badan yang kurang saat lahir
  3. Merokok atau konsumsi alkohol yang berlebihan saat hamil

ADHD bisa terjadi pada anak dengan intelektual setinggi apa pun, walaupun biasanya kasusnya lebih banyak terlihat pada anak yang mengalami kesulitan belajar.

Apa saja Gejala Anak Hiperaktif?

anak hiperaktif

Gejala anak hiperaktif dibagi menjadi dua, yaitu kesulitan berkonsentrasi dan hiperaktif atau impulsif. Ada juga yang masuk pada kategori keduanya. Orang yang masuk kategori tersebut bukan mengidap ADHD, melainkan ADD, dan parahnya gejala dari ADD ini biasanya tidak terlihat secara kasat mata.

1. Kesulitan Fokus dan Konsentrasi

Beberapa tanda-tanda dari kesulitan fokus dan kosentrasi antara lain:

  • Memiliki perhatian yang rendah atau dengan kata lain gampang sekali terdistraksi
  • Ceroboh dalam melakukan sesuatu, misalnya typo dalam penulisan
  • Pelupa dan suka sekali kehilangan barang
  • Tidak bisa mengerjakan tugas-tugas yang memakan waktu atau membosankan
  • Kelihatannya tidak bisa mendengar atau kesulitan menangkap sebuah instruksi
  • Secara konstan bergonta-ganti aktivitas
  • Kesulitan untuk mengoranisasi tugas atau mengatur tugas-tugas yang diberikan

2. Hiperaktivitas dan Impulsif

Berikut beberapa tanda dari hiperaktivitas dan impulsif:

  • Tidak bisa duduk diam, harus bergerak terus, terutama di area yang sepi
  • Gelisah secara terus-menerus
  • Melakukan gerakan fisik yang berlebihan
  • Terlalu banyak bicara atau cerewet
  • Tidak bisa menunggu sampai giliran mereka yang melakukan sesuatu atau dengan kata lain tidak bisa menunggu antrean
  • Melakukan sesuatu tanpa berpikir terlebih dahulu
  • Suka sekali menginterupsi orang saat sedang berbicara
  • Insting terhadap bahaya sangat minim atau tidak ada sama sekali

Gejala yang sudah disebutkan di atas bisa memengaruhi kehidupan anak hiperaktif karena kehidupan sosialnya akan terganggu, sehingga bisa menyebabkan penurunan nilai akademik dan prestasi, bahkan attitude bisa dicap buruk andai seseorang tidak tahu bahwa sang anak mengidap ADHD.

Bagaimana Perawatan untuk Anak Hiperaktif?

Psikiater bisa menolong anak hiperaktif dengan tindakan medis berupa pemberian obat-obat psikiatris seperti:

  1. methylphenidate
  2. lisdexamfetamine
  3. dexamfetamine
  4. atomoxetine
  5. guanfacine

Perlu dicatat bahwa obat-obat ini bukanlah pengobatan permanen untuk ADHD, tetapi bisa membantu untuk meringankan gejala seperti konsentrasi yang lebih baik, berkurangnya impusivitas, lebih tenang, dan berkesempatan untuk belajar hal baru.

Beberapa dari obat tersebut bisa dikonsumsi setiap hari, tapi bisa juga hanya diminum saat hari sekolah saja. Break saat pengobatan (mirip tapering) mungkin direkomendasikan untuk melihat apakah masih diperlukan pemberian obat atau tidak.

Sangat penting untuk memberi tahu dokter gejala atau efek samping apa saja yang dialami setelah mengonsumsi obatnya untuk penanganan lebih lanjut. Dengan begitu, dokter bisa membuat kebijakan apakah perawatan ADHD ini perlu dilanjutkan atau tidak.

Hidup Bersama Anak Hiperaktif Itu Tantangan

Sangat paham sekali bahwa setiap orang ingin dilahirkan sehat tanpa kekurangan apa pun, tetapi kita harus membantu anak-anak kita jika memiliki kekurangan yang membutuhkan bantuan kita.

Anak hiperaktif harus dibantu baik dari keluarganya sendiri dan juga dokter agar ia memiliki masa depan yang cerah.

Bukan hanya anak yang sehat saja yang memiliki masa depan dan tujuan, anak dengan ADHD juga berhak untuk itu dan kamu bisa mewujudkannya.

Tagged in: