Cegah Risiko Bayi Stunting – Pemberian gizi yang baik bisa menurunkan risiko bayi stunting. Dijelaskan oleh Izwardi dari Kemenkes RI, perbaikan gizi di 1.000 hari pertama kehidupan penting dilakukan. Ini merupakan cara tepat sebagai upaya awal mencegah stunting.

“Selama ini yang didiskusikan adalah stunting multifaktor, bicara pada bumil dan baduta. Keberhasilan pemenuhan gizi bisa mengurangi risiko bayi lahir dengan berat badan yang rendah,” ujar Izwardi. 

Pemenuhan gizi pada remaja juga bisa memutus mata rantai bayi stunting. Remaja merupakan generasi pertama kehidupan yang harus dijaga pemenuhan gizinya. Pemberian protein yang cukup akan mencegah generasi stunting. 

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga seperti yang dikutip dari Beritasatu juga menjelaskan bahwa penyebab stunting sangat kompleks. Salah satunya adalah perkawinan anak.

Wanita Di bawah Usia 20 Tahun Beresiko Melahirkan Prematur

Bintang menjelaskan, berdasarkan data World Health Organization (WHO), bayi yang dilahirkan dari ibu berusia di bawah 20 tahun beresiko lebih besar lahir secara prematur, berat badan lebih rendah, dan komplikasi kehamilan lain yang meningkatkan risiko stunting.

“Di Indonesia, prevalensi perkawinan anak sangat tinggi 10,35%,” kata Bintang pada Seminar Nasional Daring “Pencegahan Stunting Keluarga Muslim Sehat, Generasi Kuat Sejahtera,” Rabu (30/6).

Ketimpangan Gender Juga Berpengaruh

Bintang menjelaskan, selain perkawinan anak ada juga masalah gender yang mempengaruhi. Dalam hal ini ketimpangan gender sangat besar sehingga perempuan memiliki akses terbatas dibanding laki-laki. Baik terhadap pendidikan, layanan kesehatan, ataupun sumber daya lain. 

Padahal berbagai hal itu terkait dengan persoalan bayi stunting. Ketidaksetaraan gender bisa menyebabkan perempuan dinomorduakan. Perempuan juga kesulitan mendapat makanan bergizi, apalagi jika dalam keluarga yang sumber dayanya terbatas. 

Sangat penting bagi perempuan mendapat akses gizi seimbang sejak dini agar tumbuh sebagai ibu yang sehat. 

“Perlu diingat bahwa dua tahun pertama kehidupan dimulai, hanya ibu yang dapat menyalurkan nutrisi pada janin. Sehingga ibu yang sehat akan melahirkan bayi yang sehat pula. Sungguh memprihatinkan berdasarkan data BPS 2018, 48,9% ibu hamil mengalami anemia, baik di desa maupun kota,” ucap Bintang.

Selain mendapat akses makanan bergizi, Bintang menjelaskan keterbatasan akses perempuan terhadap fasilitas kesehatan juga memperparah kondisi. Anemia bisa menjadi tak teratasi dan kondisi kesehatan tak kunjung membaik. Padahal perempuan yang mengalami anemia akan melahirkan bayi stunting dengan berat badan lebih rendah.

Faktor Kemiskinan

Selain, itu, perempuan miskin juga rentan hidup dalam lingkungan tidak sehat di mana situasi yang buruk sesuai data Survei Sosial Ekonomi Nasional 2019. Perempuan kepala rumah tangga banyak ditemukan di keluarga miskin, yaitu 16.9%. Sementara perempuan kepala rumah tangga dengan sanitasi tidak layak sebesar 8,04%.

“Tentu perempuan kepala rumah tangga miskin harus menjadi perhatian karena menanggung risiko sebagai tulang punggung keluarga sekaligus pemberi nutrisi anak terutama di masa kehamilan pemberian ASI eksklusif,” jelas Bintang.

Menurut Bintang, ASI eksklusif harus dilakukan di 6 bulan pertama kehidupan bayi dengan makanan pendamping ASI atau MPASI yang tepat sampai anak berusia 2 tahun agar mencegah terjadinya bayi stunting.

Sayangnya, selama ini pemberian MPASI dan ASI masih sering dipandang sebagai tugas ibu semata. Padahal pemberian itu membutuhkan dukungan sosial. Mulai dari fasilitas di tempat kerja yang saat ini belum tersedia secara merata.

Oleh sebab itu, Bintang menegaskan, menyelesaikan masalah bayi stunting tidak hanya pekerjaan sendiri-sendiri atau menitikberatkan pada sektor kesehatan saja. Seluruh sektor pembangunan harus bekerja sama untuk menyelesaikan persoalan ketidaksetaraan gender dan isu perempuan maupun anak lainnya yang berkaitan.

Tagged in: